Alamku, alammu, alam kita semua. Mari Jaga !


Oleh : Fajar sumba wanto ( Pemuda Sumba barat )
custodire la natura
   Sebelum terciptanya kota-kota moderen dan sebelum lahirnya berbagai teknologi, manusia hidup dengan segala keterbatasannya dari alam. Kita hidup berdampingan dengan pepohonan, rerumputan, dan berbagai tanaman. Memanfaatkan apa yang kita perlukan dari mereka secukupnya. Namun manusia saat ini seperti sudah bercerai dengan alam. Kita memilih untuk memisahkan diri darinya, tinggal di kota-kota besar, dan lupa bahwa manusia sesungguhnya diberikan peran yang sangat penting di bumi yakni sebagai penjaga keseimbangan alam.
   Saat ini kita sudah mengenal teknolgi dan bangunan infrastruktur, dan bahkan tenaga manusia sudah digantikan dengan tenaga robot (yang tak lain robot itu pun buatan manusia) inilah fase Revolusi industri 4.0.  Poin yang kita tangkap bagaimana manusia sekarang sudah maju dalam hal berifikir tinggal bagaimana akal dan pikiran manusia di manfaatkan saja untuk menjaga kelestarian dan kesinanbungan untuk merawat,menjaga, dan melestarikan alam itu sendiri.
   Indonesia di kenal dengan Negara seribu pulau "sekalian menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara dengan pulau terbanayak di dunia" dan masih banyak lagi julukan untuk Negeri kita ini, tidak heran jikalau ada beberapa pulau yang dikenal dengan surganya dunia atau panggilan yang mengakrabkan Indahnya pulau itu di telinga orang. Penulis coba menarik suatu fenomena keindahan pulau yang ia ketahui, yaitu pulau Sumba Pulau, Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan Luas wilayah 10.710 km2, dan titik tertingginya Gunung Wanggameti (1.225 Mdpl). Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah Barat laut, Flores di Timur laut, Timor di timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini, di bagian Timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah Selatan dan Barat.
   Secara Administratif, Pulau ini termasuk wilayah Provinsi NTT, Pulau ini sendiri terdiri dari Empat kabupaten yakni Kab. Sumba barat, Kab. Sumba barat daya, Kab. Sumba Tengah, dan Kab. Sumba Timur. Sebelum di kunjungi Eropa pada 1522, Sumba tidak pernah dikuasai oleh Bangsa manapun. Sejak 1866, pulau ini di kuasai oleh Hindia Belanda dan selanjutnya menjadi bagian dari Nusantara dan akhirnya Menjadi bagtian dari negara Indonesia. Masyarakat Sumba secara rasial merupakan campuran dari ras Mongoloid dan Melanesia. Sebagian besar penduduknya menganut kepercayaan animisme atau Marapu (berhala) dan Islam, kristen, dan katolik.
   Jika kita bicara destinasi Wisata maka tidak heran kita menemui tempat-tempat yang memanjakan mata di pulau ini, misalnya Sumba Timur dikenal dengan Sabana atau padang rumput nya, Sumba tengah dikenal dengan Air terjunnya, Sumba barat dikenal dengan rumah adat di tengah kota dan Sumba barat daya di kenal pula dengan pantainya (penulis tidak menyebut sapenuhnya destinasi atau nama tempat wisata di pulau sumba). Lantas dari pada tugas kita menjaga ekologi tanpa mengakumulasi Ekonomi berlebihan dari alam kita ini.
            Kita bisa membagi tugas dan fungsi dari setiap elemen yang ada di pulau Sumba (Pemerintahan, pemuda, petuah atau rato-rato adat yang mendiami pulau sumba).
   
 ~Pemerintah Daerah
  •   berkomunikasi menyediakan anggaran guna perawatan destinasi wisata ataupun peninggalan sejarah di sumba.
  •  menjalankan fungsi dari struktur lembaga eksekutif maupun legislatif untuk menata daerah Sumba.
~Pemuda
  •  sebagai kalangan yang mempunyai gagasan dan ide cemerlang guna memberi masukan kepada pemerintah agar pesisir pantai dan alam di sumba tidak di eksploitasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab di kemudian hari.
~Petuah Adat/Rato 
  •  Senantiasa tetap memberi arahan kepada elemen lain yang terhimpun dalam masyarakat Sumba untuk mempertahankan ke-asrian tanah Sumba dan merawat keberagaman berdasarkan budaya.

   Sampai pada itu, dimana kita tidak akan menemui lagi alam yang menangis akan rusaknya hutan di tebang pohonnya, laut tidak lagi bersedih dimana karangnya rusak, dimana manusia tidak saling menyalahkan atas rusaknya alam. Sudah seharusnya bergegas dari sekarang dengan swadaya -swadaya dari lingkaran masyarakat Sumba berkegiatan positif, khusunya menjaga alam.   Poin terakhir sekarang dimana penulis memetik jargon pemersatu “come on kita bahu membahu kita merawat akal sehat menjaga ingatan dan mempertegas lagi bahwa perjuangan belum selesai”

Komentar

Postingan Populer